Entah apa yang sedang dalam pikiranku, aku tengah menggunting kuku bayi mungilku Qaf. Tapi tiba- tiba aku sadar bahwa apa yang aku lakukan salah. Bukannya menggunting kuku malah menepi sedikit ke daging dekat kuku. Alhasil berdarah meskipun sedikit. Qaf yang kutahu dia bayi yang kuat tiba- tiba menangis. Panik, takut dan bingung menjadi satu. Ku pastikan aku harus fokus. Langsung ku minta tolong ke Fa untuk mengambilkan kain kasa untuk membersihkan darah dan betadine untuk mengobati luka. Alhamdulillah Qaf hanya menangis sebentar, seperti meringik. Kulihat Fa dengan sigap membantuku menangani luka Qaf.
Setelah Qaf terlihat tenang, aku pun berterima kasih kepada Fa. Tak lama kemudian kulihat celana Qaf basah, pertanda dia ngompol. Karena masih dalam keadaan menjaga Qaf, aku meminta tolong ke Fa untuk mengambilkan celana bersih dan memakaikannya ke Qaf.
" Mba Fa, dede Qaf ngompol. Mom minta tolong ambilkan celana ya.." pintaku padanya. Fa langsung membuka lemari dan mengambil celana yang ku maksud.
" Tolong pakaikan sekalian ya...." dalam hati ku mengingat bagaimana dulu awal- awal Qaf baru lahir, dia sangat ingin melakukan apapun yang kulakukan kepada Qaf termasuk menggantikan popok atau celana seperti situasi ini. Ketika itu aku belum mengizinkannya melakukan semua ini karena masih terlalu dini untuk anak seusianya, pikirku. Apalagi Qaf masih berusia beberapa hari saja yang notabene masih sangat rentan tubuhnya.
Kali ini karena merasa terdesak juga, ku coba memberi kesempatan kepadanya mengingat materi komunikasi produktif yang tengah kupelajari.
Dia memakaikan celana adiknya dengan serius dan sesaat ku terharu melihatnya. Merasa bersalah, karena sebelumnya kalau dia nekad melakukan mengurus adiknya seperti ini, aku biasanya langsung melarang dengan nada tinggi. Rasanya aku jahat sekali mendidik putri sulungku yang saat itu tengah mengalami sibling rivalry. Dan kali ini dia bisa, Qaf juga terlihat nyaman.
" Terimakasih ya mba Fa, sudah membantu mom mengurus dede Qaf.. Sudah bisa memakaikan celana dede ya.. ? nanti kalau dede pipis lagi, mba Fa yang pakaikan celananya seperti tadi ya.." ucapku memberinya kepercayaan baru mengurus adiknya.
" Oke, sip sip.." jawabnya santai dengan gayanya yang ceria. Dia pun menyanyikan adiknya lagu pok ame- ame dan Qaf senang sekali. Kulihat Qaf selalu menunjukkan ekspresi gembira ketika melihat kakaknya.
Terharu ku dibuatnya. Memberi kepercayaan kepada seorang kakak sangat membantu menyelesaikan sibling rivalry dengan menyenangkan. Dan komunikasi produktif mampu menjembatani masalah ini. Perasaan cemas yang dulu kurasakan ketika harus meninggalkan Qaf berdua saja dengan kakaknya, kini berubah menjadi percaya. Percaya bahwa kakak Fa sangat sayang kepada adiknya. Kakak Fa sangat senang bisa mengurus dan menjaga adiknya.
Setelah Qaf terlihat tenang, aku pun berterima kasih kepada Fa. Tak lama kemudian kulihat celana Qaf basah, pertanda dia ngompol. Karena masih dalam keadaan menjaga Qaf, aku meminta tolong ke Fa untuk mengambilkan celana bersih dan memakaikannya ke Qaf.
" Mba Fa, dede Qaf ngompol. Mom minta tolong ambilkan celana ya.." pintaku padanya. Fa langsung membuka lemari dan mengambil celana yang ku maksud.
" Tolong pakaikan sekalian ya...." dalam hati ku mengingat bagaimana dulu awal- awal Qaf baru lahir, dia sangat ingin melakukan apapun yang kulakukan kepada Qaf termasuk menggantikan popok atau celana seperti situasi ini. Ketika itu aku belum mengizinkannya melakukan semua ini karena masih terlalu dini untuk anak seusianya, pikirku. Apalagi Qaf masih berusia beberapa hari saja yang notabene masih sangat rentan tubuhnya.
Kali ini karena merasa terdesak juga, ku coba memberi kesempatan kepadanya mengingat materi komunikasi produktif yang tengah kupelajari.
Dia memakaikan celana adiknya dengan serius dan sesaat ku terharu melihatnya. Merasa bersalah, karena sebelumnya kalau dia nekad melakukan mengurus adiknya seperti ini, aku biasanya langsung melarang dengan nada tinggi. Rasanya aku jahat sekali mendidik putri sulungku yang saat itu tengah mengalami sibling rivalry. Dan kali ini dia bisa, Qaf juga terlihat nyaman.
" Terimakasih ya mba Fa, sudah membantu mom mengurus dede Qaf.. Sudah bisa memakaikan celana dede ya.. ? nanti kalau dede pipis lagi, mba Fa yang pakaikan celananya seperti tadi ya.." ucapku memberinya kepercayaan baru mengurus adiknya.
" Oke, sip sip.." jawabnya santai dengan gayanya yang ceria. Dia pun menyanyikan adiknya lagu pok ame- ame dan Qaf senang sekali. Kulihat Qaf selalu menunjukkan ekspresi gembira ketika melihat kakaknya.
Terharu ku dibuatnya. Memberi kepercayaan kepada seorang kakak sangat membantu menyelesaikan sibling rivalry dengan menyenangkan. Dan komunikasi produktif mampu menjembatani masalah ini. Perasaan cemas yang dulu kurasakan ketika harus meninggalkan Qaf berdua saja dengan kakaknya, kini berubah menjadi percaya. Percaya bahwa kakak Fa sangat sayang kepada adiknya. Kakak Fa sangat senang bisa mengurus dan menjaga adiknya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar