Minggu, 16 September 2018

Komunikasi Produktif Hari Kesepuluh

Alhamdulillah sampai juga pada tantangan game level 1 di hari kesepuluh sebagai standar minimal mengerjakan tantangan. Seneng, karena akhirnya aku bisa melewatinya. Sedih karena di saat momen- momen komunikasi produktif bersama kedua anakku terlewat begitu saja tanpa dokumentasi. Semua ini karena keadaan HP yang sedang dicharge, jadi rasanya melewatkan momen berharga itu gela kalau bahasa Jerman( Jejer kauman - Gombong maksudnya) heeehee..

Hari ini adalah hari libur sekolah Fa. It's family time...kami melewati hari ini bersama, meskipun tanpa ayahnya anak- anak yang sedang berjuang mencari nafkah untuk kami di Ibukota. Alhamdulillah aku selalu berusaha agar setiap hari Ahad selalu ada quality bersama mereka, terutama si sulung Fa.

Biasanya kalau hari libur dia selalu mencari ide supaya bisa main di luar, berkunjung ke rumah teman tepatnya. Alhamdulillah dari pagi sudah ku sounding bahwa mom lebih senang kalau mba Fa libur bermain di rumah bersama mom. Dan ternyata apa yang aku sampaikan padanya diiyakan tanpa kata- kata tetapi dengan tingkah laku. Dia bermain di rumah, berkeliling rumah, mengambil buku tulis beserta pensil dan krayon lalu menulis atau menggambar sesuka hatinya.Hingga siang menjelang, ku ajak dia untuk membuat nugget sayur. Awalnya dia tidak tertarik tetapi setelah aku ke dapur dan mempersiapkan bahan- bahan yang harus disiapkan dia mulai tertarik.
" Mom, mba Fa mbantuin ya..." ucapnya sambil melihat apa saja yang sudah terhidang di meja.
" Boleh...mba Fa mau bantu apanya nih? bantu aduk ya?' jawabku sambil memperlihatkan bagaimana mencampur semua bahan.
" Mba Fa.. mba Fa.. mba Fa aja yang ngaduk mom... " pintanya dengan semangat ingin mengambil alih adonan nugget di dalam baskom. Maka ku berikan garpu beserta baskom tersebut.
" Mom mau buat apa sih?" tanyanya sambil terus mengaduk adonan.
" Buat apa ya? ayo tebak...mom mau buat apaa??' tanyaku ingin menggodanya.
" Mba Fa ga taulahh..." jawabnya menyerah dan sedikit tidak terima digodaku.
" Lihat saja nanti mom mau buat apa" jawabku masih menyisakan rasa penasaran padanya.
" Iya tapi buat apa ya.." desaknya semakin ingin tahu.
" Mom mau buat nugget.." jawabku singkat.
" Mom udah bisa buat nugget sendiri?' tanyanya seperti meragukan momnya. hemmmm..
" Alhamdulillah sudah. Kan mom dulu juga udah pernah bikin bareng Fa jugaa.." jawabku mengingatkan padanya. Saya yakin sekali kalau dia pasti lupa karena daya ingatnya masih pendek sekali.
" Ooohh..." jawabnya singkat sambil memonyongkan bibirnya.

Lalu kami pun terlarut dalam aktivitas fun cooking kami. Dia begitu bersemangat ketika kami mulai memotong adonan yang sudah dikukus kemudian mencelupkannya ke dalam telur dan tepung panir.
" Mba Fa aja mom, yang motong- motong.." pintanya begitu bersemangat.
" Hati- hati motongnya ya... itu pisau.." pintaku sambil memberikan pisau padanya..

Satu per satu diselesaikan olehnya hingga semua selesai dan ku goreng sedikit untuk dimakan olehnya dan sisanya disimpan di dalam lemari es untuk besok pagi.
" Gimana Fa rasanya? kamu suka?' tanyaku menyelidik. Selama ini dia tidak terlalu suka makan sayuran, dan nugget ini sengaja dibuat menggunakan sayuran untuk menyiasati asupan sayuran baginya. Sedikit cemas kalau dia tidak menyukai dan hanya makan satu seperti sebelumnya.
" Panas mom....huuuff...hhahhhhh...enak..." jawabnya sambil meniup- niup makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
" Mba Fa minta lagi ya mom?' tanyanya sambil terus mengambil nugget yang baru diangkat dari penggorengan. Dan hasilnya? alhamdulillah nuggetnya habis olehnya. Dia begitu menyukainya, aku cuma kebagian makan satu potong saja. dudududuuuu...
" Enak mom...mba Fa suka, kalau mom yang buat...mba Fa abisin semua..hehehe" dia memujiku yang membuatku merasa melayang...terharu..baru kali ini anakku memuji masakanku.
" Alhamdulillah kalau mba Fa suka. Terimakasih ya sudah memuji mom nuggetnya enak, terimakasih juga sudah membantu mom memasaknya.. alhamdulillah Fa suka, mom senang.. nuggetnya dari sayuran soalnya" pujiku pada Fa atas semua yang sudah dia lakukan.

Dia terlihat begitu senang menikmati semua nugget yang sudah dibuatnya. Aku pun senang karena akhirnya ia menikmati apa yang sudah ku hidangkan. Memberi kesempatan pada anak untuk bereskplorasi salah satunya memasak dapat melatih ketrampilan motoriknya dan melatih estetika dalam memasak. Selain itu, memasak bersama merupakan cara jitu untuk berkomunikasi produktif dari memberi pujian dengan jelas, menggunakan intonasi dan suara ramah, memberi informasi berupa cara yang harus dilakukan dengan kalimat yang pendek serta sederhana dan menyatakan keinginan kita dengan jelas pula.

Semoga komunikasi produktif tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi selamanya, selama mendampingi tumbuh kembang anak dengan komunikasi berkualitas yang menghasilkan sesuatu yang positif. Sejauh ini saya lebih memaksimalkan komunikasi produktif dengan anak daripada pasangan karena banyak sekali yang harus aku perbaiki bagaimana ku hadapi dia sehari- hari. Aku hanyalah ibu biasa yang memiliki banyak kekurangan. Semoga bisa menjadi ibu yang lebih baik. lebih profesional dan lebih sabar dalam menghadapi anak- anak. aamiin..

* Note : maaf, tidak ada foto ya..seperti yang kujelaskan di atas, HP sedang tidak mendukung, tengah diisi baterai dan membutuhkan waktu lebih lama.


Sabtu, 15 September 2018

Komunikasi Produktif Hari Kesembilan

Hari ini adalah hari yang membuatku sangat bahagia. Karena apa? bukan karena aku dapat hadiah rumah atau mobil atau uang ratusan juta. Bukaaannn... bukan itu.. Tapi karena ku merasa menjadi ibu paling bahagia. Yaa... bagiku yang paling membahagiakan adalah semua tentang perkembangan anak- anakku.

Pagi hari, seperti biasa aku sibuk dengan dua anak- anakku yang satu cantik dan yang satu ganteng. Karena mba Fa mau mandi pagi, itu karena aku berkomunikasi produktif dengannya. Ku beri dia motivasi supaya mandinya lebih bersemangat.
" Mba Fa, mumpung masih pagi, mba Fa mandi dulu yukk.. kalau mandinya masih jam segini insya Allah pas nanti jam setengah delapan saatnya berangkat rambutnya udah kering, nanti mom bantu kepang rambutnya. mauu?" tawarku kepada Fa supaya mau mandi pagi..
" Yeee... beneran ya mom... nanti rambutnya dikepang, mba Fa mau mandilah.." sahutnya dengan sorak gembira.
Akhirnya Fa pun pergi ke kamar mandi tanpa ada basa- bassi. Yaa..akhir- akhir ini dia sedang sangat menyukai jika rambutnya dikepang. Tiba- tiba dia kembali lagi.
" Mom, mba Fa pengen PUP. " ucapnya sambil menahan sakit perut.
" OOhh.. ya sudah, PUP dulu aja. Nanti tinggal dilanjut mandi" jawabku sambil mendorong kereta bayi Qaf.

Hingga akhirnya jam pun menunjukkan pukul 07.20 WIB dan sudah saatnya ku tepati janjiku untuk mengepang rambut Fa. Karena masih basah sedikit, ku nyalakan kipas untuk mengeringkan rambutnya. Selesailah dikepang, ia pun bersiap berangkat sekolah. Kali ini ku tak bisa menampilkan fotonya dengan rambut kepangnya. Mba Fa sama sekali tidak mau difoto. Sudah ku rayu dan ku bujuk tetap tak ada hasil. Ya sudahlahh..

Menjelang siang setelah ku jemput Fa pulang sekolah, aku memboyong Qaf untuk menemaniku menyetrika baju. Dan seperti biasa, dia ku temani dia sambil menyetrika baju supaya ketika dia buang air ataupun minta ASI ku mudah mengetahuinya. 


Dan setrikaan pun menumpuk. saat ku tengah asyik melakukannya, ku dengar Qaf bergumam, aku pun mendekatinya.

" Dede Qaf pengen mimi ya? Yuukk mimi dulu. " ujarku sambil menggendongnya dan menaruhnya di atas pangkuanku. Selang beberapa menit, dia pun buang air besar dan segera ku bersihkan.
" Dede Qaf PUP ya? iihh.. bauuu.. mom bersihkan ya... " ucapku sambil terus membersihkan kotoran.
Setelah selesai dan sudah bersih ku biarkan Qaf bermain sendiri. 
" Naahh.. dede Qaf sudah wawik, sudah bersih. Mom mau nyetrika lagi. Dede sini aja ya, yang pinter nemenin mom.. Kalau mau bobo, bobo aja ya.. dan tadi udah mimi.. atau kalau mau mainan sendiri latihan miring- miring lagi boleh kokk..insya Allah mom selesai sebentar lagi." jelasku padanya.

Dan ternyata bayiku yang kini berusia hampir 3 bulan pun paham dengan apa yang ku minta tadi. Dia tidak rewel, dia tidak minta selalu ditemani. Dia anteng. Ku lihat dia tidur. Alhamdulillah.. jadi aku bisa melanjutkan menyetrika dengan tenang. Hingga aku selesai menyetrika ku lihat dia sudah bangun dan tengah bermain memiringkan badannya sambil menghisap jari- jarinya.

Alhamdulillah, kedua anakku hari ini begitu menyenangkan. Mereka bisa mengerti dengan apa yang ku inginkan bahkan yang bayi sekalipun. Komunikasi sedari bayi sangat efektif untuk melatihnya mengutarakan keinginan, menerima informasi dari ibunya yang setiap hari menemani.
Tumbuhlah jadi anak- anak yang sholehah dan sholeh ya sayang- sayangkuu..


Jumat, 14 September 2018

Komunikasi Produktif Hari Kedelapan

Hari ini aku harap- harap cemas dengan Fa. Bukan karena apapun yang mengkhawatirkan atau berbahaya tetapi karena dia kemarin sudah berjanji bahwa hari ini dia akan tidur siang. Terlihat sepele, tetapi inilah yang membuatku agak kecewa dibuatnya karena ia sudah berjanji tetapi tiba- tiba dia entah kemana.

Seperti biasa sepulang sekolah, dia masih mondar- mandir belum ganti baju. Mbah uti mengingatkannya untuk segera ganti baju terlebih ada seorang temannya yang sudah datang ke rumah. Mulai kekhawatiran semakin menjadi, karena harapanku untuk dia tidur siang hari ini bisa kembali pupus. Tetapi alhamdulillah angin segar mulai datang, teman tersebut hanya meninformasikan kepada kami bahwa Qaf harus ditimbang segera. Akhirnya dengan cepat Fa ganti baju supaya bisa ikut mengantar Qaf ke posyandu. Alhamdulillah jadi aku tak perlu berpanjang lebar untuk memintanya ganti baju.

Sepulang dari timbangan, dia makan siang bersama saudara yang setiap hari di rumah. Aku mulai untuk berkomunikasi produktif dengannya mengingatkan janjinya kemarin.
" Mba Fa, kemarin ada yang janji kalau hari ini mau tidur siang. Mba Fa ingatkah siapa itu?" tanyaku menyelidik.
" Iya mom, nanti mba Fa bobo. Mba Fa juga nanti mau sholat." jawabnya membuatku senang karena ia masih ingat.

Setelah makan selesai ia memang bermain seperti biasa. ketika waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB aku kembali mengingatkan Fa.
" Mba, sudah siang lho ini.. Jadi tidur ga?" aku mengingatkannya.
" iya mom..sebentar" sahutnya sambil tetap bermain.

Beberapa menit kemudian ia masuk ke kamar bersama zayyan dan menutup pintu.
" Jangan- jangan mainan ini di dalam kamar" batinku sedikit curiga.
Ku ingat bahwa aku harus berpikir positif padanya. Lalu ku tetap melanjutkan aktivitaskuyang tengah menjahit. Beberapa menit berlalu, ku masih mendengar bisik- bisik dari dalam kamar. Itu tandanya mereka masih mengobrol.
" Masih ngobrol ya? nanti bobo ya.." tanyaku tiba- tiba sambil membuka pintu kamar. Dan mereka hanya melirik dan saling pandang. ahaayyy....sudah saatnya tidur mungkin itu makna bahasa tubuh mereka.
Daannnn.... tiba- tiba ku dengar semua sunyi. Ku coba kembali membuka pintu dan tarrraaaa... mereka tidur....senangnya hatiku. Akhirnya Fa tidur siang, bersama saudara yang biasanya sangat sulit bisa tidur siang seperti ini.

Tepat pukul 14.00 WIB ku dengar pintu kamar terbuka dan mereka keluar kamar tanda sudah bangun. Ku sambut mereka dengan pujian dan senyum ramah.

" Waah.. sudah bangun... terima kasih mba Fa, karena hari ini mba Fa sudah menepati janji untuk tidur siang... seger ya, sudah tidur.." dia pun hanya tersenyum sambil terus mendekatiku.

Alhamdulillah komunikasi produktif sangat membantuku untukmengutarakan keinginan tanpa harus bernada- nada yang seikit mengganggu telinga. terima kasih Fa....

Kamis, 13 September 2018

Komunikasi Produktif Hari Ketujuh

Tiba- tiba bangun, dan langsung bilang " Mom, pelukk..." ucap Fa saat bangun tidur tadi pagi.
Saya mulai heran, ada apa dengannya ko tumben batinku. Mulailah ku selidiki sambil memeluknya sesuai permintaan.
"Tumben mba, bangun- bangun minta peluk. Kenapa?" tanyaku.
" Mba Fa cape" jawabnya singkat.

Ku ingat bagaimana ia tidur malam akhir- akhir ini yang begitu gelisah dan menandakan kalau dia kelelahan. Langsung saja aku beri wejangan kalau dia butuh istirahat cukup terutama siang, yang sudah berkali- kali aku ingatkan tapi tak pernah ia indahkan. Oh, nooo....

" Emmm.. mba Fa cape ya? kayanya karena mba Fa main terus..kalau pulang sekolah kan cape, tuh.. harusnya istirahat dulu, makan, sholat dzuhur, terus bobo siang deh. bangun bobo baru main sebentar. Kalau bobo siang insya Allah ga cape." jelasku mulai panjang kali lebar karena merasa semangat ini saatnya buat mengingatkan dia kembali pada saat yang tepat.

Kulihat tidak ada komentar apapun darinya. Dia hanya mendekap tubuhku sambil menikmati rasa kantuknya.
" Kalau malam, mba Fa tidurnya guling- guling terus. Kadang tiba-tiba bangun minta dipijitin terus tidur lagi.. lucu deh... Biar ga cape lagi, nanti siang pulang sekolah bobo ya.." pintaku penuh harap

Tak ada respon darinya seikitpun. Mungkin dia tengah mencerna dan mengiyakan di dalam hati tentang penjelasanku tetapi malu mengakui. hihiii...Ge- Er.
" Iya, mba Fa sekolah kan cape mom..cape banget tau mom.. " dia mulai bersuara.
" Ya iyalah.. cape..pulang sekolah mainnya ke sawah lagi...nih, kulitnya sampai kaya gini" ku mulai meledeknya. " Terus kalau sekarang cape ga usah sekolah apa?' tambahku ingin menguji keinginannya karena biasanya dia tidak pernah mau jika tidak sekolah.
" Sekolah.." sambungnya.
Akhirnya ku ajak bangun dan sholat.

Siang hari ku jemput dia pulang sekolah. Teringat akan percakapan kami tadi pagi, aku kembali mengingatkan supaya dia mau beristirahat setelah samapai rumah. Dan dengan diskusi agak lama dia pun sudah siap untuk tidur, sudah menyatakan diri bahwa dirinya mengantuk. Waahh...angin segar nihh.. dia mau tidur..Rasanya senang luar biasa, karena ini yang sudah berminggu- minggu ku inginkan, tidur siang sepulang sekolah.

Ternyata semua tidak berjalan sesuai yang ku inginkan. Fa tiba- tiba diajak oleh mbah uti untuk menemani beliau ke rumah mbah buyut Fa. Dan sepulangnya dari sana, drama pun dimulai. Ku ingatkan untuk tidur, dia menciptakan berbagai alibi supaya tidak jadi tidur. Dia mengatakan bahwa kemarin kecapean karena baru lomba di sekolah dan berbagai alasan lainnya..

Oke.. kali ini aku harus tarik nafas panjang karena sepertinya komprod yang kulakukan hari ini berujung pada " kompor" perasaanku. Mulai kesal karena ia tak menepati janji yang katanya 5 menit lagi tapi tau tau entah sudah kemana dia. Mungkin sedang bergembira dengan alam seperti biasanya. Dan ternyata benar samapi sore menjelang ngaji ia tak kunjung tidur. Baiklah, mungkin ku perlu berkomunikasi lebih produktif lagi esok hari. Ada kalanya seorang ibu memang harus teraduk- aduk emosi dan nalarnya saat menghadapi anak. Bagaimanapun sudah menjadi fitrah mereka yang memilih bergerak daripada berdiam diri. Ya... selamat bercengkerama dengan alam sayang.. Tapi ingat, ya, kalau terlalu lama bermain dan cape, tubuh juga bisa kelelahan dan akhirnya sakit. Kalau sakit nggak bisa main lagi deh. Begitu kira-kira yang aku sampaikan kepadanya sebagai senjata pamungkas untuk membuatnya mau beristirahat.

Harapannya bisa upload foto seperti gambar berikut. Tapi ini foto beberapa bulan yang lalu sebelum ia sekolah.


Dia lebih memilih aktivitas lain ...


#Kenapa fotonya gelap yak? ^_^

Rabu, 12 September 2018

Komunikasi Produktif Hari Keenam

Entah apa yang sedang dalam pikiranku, aku tengah menggunting kuku bayi mungilku Qaf. Tapi tiba- tiba aku sadar bahwa apa yang aku lakukan salah. Bukannya menggunting kuku malah menepi sedikit ke daging dekat kuku. Alhasil berdarah meskipun sedikit. Qaf yang kutahu dia bayi yang kuat tiba- tiba menangis. Panik, takut dan bingung menjadi satu. Ku pastikan aku harus fokus. Langsung ku minta tolong ke Fa untuk mengambilkan kain kasa untuk membersihkan darah dan betadine untuk mengobati luka. Alhamdulillah Qaf hanya menangis sebentar, seperti meringik. Kulihat Fa dengan sigap membantuku menangani luka Qaf.

Setelah Qaf terlihat tenang, aku pun berterima kasih kepada Fa. Tak lama kemudian kulihat celana Qaf basah, pertanda dia ngompol. Karena masih dalam keadaan menjaga Qaf, aku meminta tolong ke Fa untuk mengambilkan celana bersih dan memakaikannya ke Qaf.

" Mba Fa, dede Qaf ngompol. Mom minta tolong ambilkan celana ya.." pintaku padanya. Fa langsung membuka lemari dan mengambil celana yang ku maksud.
" Tolong pakaikan sekalian ya...." dalam hati ku mengingat bagaimana dulu awal- awal Qaf baru lahir, dia sangat ingin melakukan apapun yang kulakukan kepada Qaf termasuk menggantikan popok atau celana seperti situasi ini. Ketika itu aku belum mengizinkannya melakukan semua ini karena masih terlalu dini untuk anak seusianya, pikirku. Apalagi Qaf masih berusia beberapa hari saja yang notabene masih sangat rentan tubuhnya.
Kali ini karena merasa terdesak juga, ku coba memberi kesempatan kepadanya mengingat materi komunikasi produktif yang tengah kupelajari.

Dia memakaikan celana adiknya dengan serius dan sesaat ku terharu melihatnya. Merasa bersalah, karena sebelumnya kalau dia nekad melakukan mengurus adiknya seperti ini, aku biasanya langsung melarang dengan nada tinggi. Rasanya aku jahat sekali mendidik putri sulungku yang saat itu tengah mengalami sibling rivalry. Dan kali ini dia bisa, Qaf juga terlihat nyaman.
" Terimakasih ya mba Fa, sudah membantu mom mengurus dede Qaf.. Sudah bisa memakaikan celana dede ya.. ? nanti kalau dede pipis lagi, mba Fa yang pakaikan celananya seperti tadi ya.." ucapku memberinya kepercayaan baru mengurus adiknya.
" Oke, sip sip.." jawabnya santai dengan gayanya yang ceria. Dia pun menyanyikan adiknya lagu pok ame- ame dan Qaf senang sekali. Kulihat Qaf selalu menunjukkan ekspresi gembira ketika melihat kakaknya.

Terharu ku dibuatnya. Memberi kepercayaan kepada seorang kakak sangat membantu menyelesaikan sibling rivalry dengan menyenangkan. Dan komunikasi produktif mampu menjembatani masalah ini. Perasaan cemas yang dulu kurasakan ketika harus meninggalkan Qaf berdua saja dengan kakaknya, kini berubah menjadi percaya. Percaya bahwa kakak Fa sangat sayang kepada adiknya. Kakak Fa sangat senang bisa mengurus dan menjaga adiknya.






Senin, 10 September 2018

Komunikasi Produktif Hari Kelima

Srookk kosroookkk kosrookkkk....suara sikat yang tengah digosok- gosokkan di atas baju. Ya...itu aku yang tengah mencuci baju secara manual pagi tadi. Karena hari ini libur dalam rangka Tahun Baru Islam 1440 H maka semua anak seloah libur, tak terkecuali anak sulungku Fa.

Tiba- tiba dia datang menghampiriku dan meminta ikut mencuci denganku.
" Mom, mba Fa mbantuin mom nyuci. " pintanya
" Mau bantuin mom? boleh.. sini mumpung mba Fa libur. Tapi mom udah mau selesai. " jawabku mengiyakan permintaannya.
" Tapi mba Fa yang kecil- kecil aja" pintanya mulai mendekatiku.
" Iya, makanya ini mom selesaikan yang besar- besar dulu ya.. tinggal dikit" jelasku sambil terus menyikat sisa- sisa baju yang belum terjamah. Kulihat tinggal dua potong celana adik bayi Fa dan kubiarkan saja.
" Udsh mom.. celana dede Qaf mba Fa yang nyuci. " Fa mulai bersemangat.
" Oiya sepatu mba Fa kan kotor. Dicuci sekalian mumpung libur. Mba Fa yang nyuci sendiri ya" pintaku dan berdiri dari tempat duduk kemudian menggeser penggilasan serta tempat duduk ke arah Fa.

Terlihat Fa keluar untuk mengambil sepatunya yang sudah kotor dan hendak dicuci dan selang beberapa menit Fa kembali dengan sepatunya.
Saya pun mulai membilas baju yang sudah disikat sebelumnya dan Fa sibuk mencuci celana dede dilanjutkan sepatunya. Sesekali kuarahkan bagaimana mencuci sepatu supaya bersih dan kuserahkan sikat gigi bekas untuk menggosok bagian dalam sepatu.


Setelah selesai membersihkan sepatunya, dia meminta untuk membilas baju yang kecil- kecil dan ku perbolehkan.

Hari ini merupakan family time bagi kami, karena Fa libur dan saatnya untuk berkegiatan bersama. Kulihat binar matanya yang menunjukkan dia senang ikut terlibat dengan aktivitasku yang sesungguhnya ia ingin terlibat setiap hari. Tapi karena dia sekolah waktu untuk berkegiatan bersama tidak seluas saat ia libur.
Terima kasih sayang sudah mau membantu mom dengan senaang..☺☺☺

Komunikasi Produktif Hari Keempat

Pagi menunjukkan pukul 06.15 WIB. Kulihat kamar kosong tanpa anak- anak. Mereka pergi jalan- jalan pagi bersama mbah uti pikirku. Saat tengah menuju dapur saya terkejut melihat Fa tengah duduk di depan televisi.
" Ih, ada mba Fa. Kirain sama mbah uti" tanyaku pada Fa.
" Nggak" jawabnya singkat.
" Qaf kemana?" tambahku.
" Sama mbah uti." jawab Fa sambil memainkan sesuatu entah apa.
" Mba Fa hari ini sekolah tidak?' tanyaku mulai menyelidik. Kali ini saya tidak mau membuang energi saya hanya untuk memerintahkannya mandi.
" Sekolah mom" Fa masih memutar- mutar tangan dan kepalanya tanda asyik bermain sendiri.
" Oohh.. sekolah ya? ko belum mandi..belum sarapan. Udah jam 6 lewat loo.."  tanyaku yang sebenarnya ingin memintanya untuk melakukan salah satu hal tersebut.
" Maem dulu mom lah. Pake apa?' Fa mulai tergerak untuk menyelesaikan salah satunya.
" Nasi goreng" jawabku singkat.
" Maem mom" pinta Fa merajuk supaya saya mau mengambilkan nasi goreng untuknya.
" Ada di meja sudah di piring tinggal ambil" saya mengarahkannya supaya mau mengambil sarapan sendiri.

Fa pun ke dapur dan kembali dengan sepiring nasi goreng yang sudah saya siapkan.
" Segini mom" tanyanya dengan menunjukkan sepiring nasi goreng yang hendak disantapnya. Saya anggukan kepala tanda mengiyakan.

Qaf ternyata sudah di kamar dengan mbah uti. Mbah uti meminta saya untuk segera memandikannya tetapi Fa mendengar percakapan kami dan meminta sayamenunda waktu mandi Qaf.
" Jangan mom lah. Nanti tungguin mba Fa, mandi bareng kaya kemaren" pintanya sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
" Ya tapi kan mba Fa masih makan, belum selesai. Jadi lama.." dalam urusan ini biasanya saya membutuhkan waktu ekstra agar ia bisa menghabiskan makan sendiri tanpa disuapi oleh siapapun.
" Nggak mom, cepet kok.. ini mba Fa ceppet makannya" jelasnya yang tak ingin ditinggal.

Mbah uti pun menyahut dari kamar dan menyanggah permintaan Fa dengan alasan lama jika harus menunggunya selesai makan. Namun Fa merasa tak terima jika permintaannya tak dituruti. Ia menunjukkan ekspresi ketus kepada mbah uti.
" Mba Fa masih lama nggak?' selidikku mencoba mencairkan kekesalannya.
" Ini dikit lagi mau abis." jawabnya sambil menunjukkan nasi goreng yang tinggal sepatuh porsi.

Saya melihat keseriusannya untuk segera menghabiskan sarapannya sehingga kuputuskan untuk menungguny selesai.
" Ya udah, gapapa mom tungguin. Tunggu mba Fa selesai maem ya Qaf baru mandi" ucapku sambil berbicara kepada Qaf adik bayi Fa. tiba- tiba Qaf pipis dan saya meminta Fa lebih cepat karena Qaf sudah pipis daripada harus mengganti celana lagi lebih baik langsung mandi saja.

Akhirnya Fa pun selesai makan dengan lebih cepat dari biasanya dan mandi bersama Qaf. Tak perlu membuang energi untuk mendorongnya agar disiplin dalam hal mandi sebelum  sekolah. Cukup mengerti bagaimana kemauan dia dengan memberi pilihan, empati, bersikap ramah, menyatakan keinginan, memberi arahan dengan singkat dan memberi pujian dengan jelas karena akhirnya Fa berhasil makan sendiri dengan fokus dan tanpa bantuan orang lain.

Note: No picture today. sorry